Warna-warni Batik Betawi

DIBANDINGKAN dengan hari jadi tahun-tahun sebelumnya, Kota Jakarta, yang Senin lalu merayakan hari jadi ke-482, kian terasa lebih semarak. Pasalnya, batik Betawi bakal dikembangkan demi menyemarakkan khazanah kain di Indonesia.

Ya, kegembiraan itu kian terasa saat pameran batik Betawi digelar di Museum Tekstil, Jakarta. “Pameran itu merupakan rangkaian dari berbagai pameran yang diprogramkan sepanjang tahun ini. Khusus batik Betawi, bersamaan dengan perayaan hari jadinya,” kata H. Indra Riawan, Kepala Museum Tekstil, pekan lalu.

Indra menyebutkan, kini Museum Tekstil telah menyimpan berbagai koleksi kain batik khas Betawi dari sumbangan Yayasan Sirih Nanas pimpinan H. Emma Agus Risri. Sejak Januari lalu, Emma menyumbang museum ini berupa busana, kain batik, dan perlengkapan tempat sirih Betawi.

Ditambahkan Indra, merujuk pada masing-masing suku budaya di Indonesia yang memiliki kekhasan motif, maka batik Betawi dipengaruhi simbol-simbol, seperti ondel-ondel, daun kelapa, yang merupakan simbol upacara adat Betawi.

Menurut Daud Wiryo Hadinagoro, seorang perancang batik Betawi, ciri khas batiknya adalah warna mencolok, seperti jambon atau hijau muda. Motifnya kini direvitalisasi dari motif batik Betawi zaman dulu, seperti motif gringsing, yang dikenal sejak abad ke-14.

Kemudian motif batik Ciliwung. Ide konsep desainnya diangkat untuk mengaktualisasikan peradaban manusia yang selalu bermunculan dari tepi air. Termasuk sungai Ciliwung, yang juga menjadi daya tarik bagi Portugis, Inggris, dan Belanda pada abad ke-16 dan 17 untuk menguasai Betawi. “Pemakai batik Ciliwung akan menjadi pusat perhatian dan sebagai simbol rejeki yang mengalir terus,” ujar Daud.

Sementara itu, motif lereng ondel-ondel diambil dari suasana perayaan HUT DKI Jakarta dengan berbagai macam pergelaran, termasuk ondel-ondel sebagai boneka tolak bala. Motifnya mengandung harapan agar pemakainya mendapat kehidupan yang lebih baik.

Batik Betawi diharapkan menjadi produk unggulan dan kebanggaan masyarakatnya. Demi harapan itu, Pemda DKI Jakarta lewat Badan Pengelola Lingkungan Hidup dan Pemukiman Pulogadung, Jakarta Timur, telah mencanangkan pengembangan batik Betawi sebagai salah satu program percontohan konservasi kekayaan budaya daerah. “Program ini mengajak peran para seniman dan budayawan Betawi untuk mengembangkan ragam motif yang bisa diproduksi massal,” tutur Daud.

Namun, di mata pengamat kain Indonesia, Asmoro Damais, pengembangan batik Betawi baru sebatas wacana. Sebab, batik Betawi yang belakangan ini marak dibuat, dikembangkan, dan dimasyarakatkan adalah batik Jakarta yang mesti ditelusuri berdasarkan sejarah dan filosofi yang mendalam.

Pakar kain itu menjelaskan, di masa silam produksi batik Betawi terletak di Batavia. Sejak penjajahan sampai sesudah kemerdekaan, di Jakarta hanya sedikit yang menekuninya. “Saya belum yakin benar soal pengembangan ini. Sebab, bukan tugas mudah. Batik Betawi itu warna-warni lekatnya dari sisi sejarah dengan kualitas tidak main-main. Saya senang, namun tetap menganggap ini baru wacana,” Asmoro mengungkapkan.

Perancang Musa Widyaatmodjo hampir senada. “Batik Betawi itu hanya dimiliki para kolektor kain tertentu yang berminat pada karya yang berkualitas tinggi. Biasanya hanya dimiliki kalangan etnis Tionghoa. Sebab, batiknya terpengaruh oleh peranakan Cina atau Hokien,” kata Musa awal pekan ini. Di jagat mode Tanah Air, dia disebut jawara kain lokal lantaran setia memakai kain Indonesia, termasuk batik Betawi, dalam karya-karyanya.

Musa melihat batik Betawi memiliki warna yang ngejreng nan mencolok, seperti hijau, merah, dan kuning. Adapun motifnya melambangkan potret kehidupan yang lekat dengan Betawi, seperti burung hong dan kembang mayang. Ada juga corak ondel-ondel, naga, gigi buaya berupa tumpal segitiga, lereng parang barong ceplok Barongsai, dan sebagainya.

Motif nusa kelapa memiliki ide desain dari peta Ceila buatan Pangeran Panembong pada masa Prabu Siliwangi (1482-1521). Dari peta itu terungkap bahwa daerah yang kelak bernama Jakarta sesungguhnya oleh leluhur Betawi dinamai Nusa Kelapa.

Ditambahkan Musa, batik itu muncul dari suasana Nusa Kelapa tempo dulu dan warna para nona Belanda yang bersantai di bawah pohon kelapa. “Secara umum motifnya memaparkan ide kehidupan masyarakat dan budaya Betawi yang dipengaruhi budaya Arab, India, Belanda, dan Cina–macam Barongsai, Imlek, Cap Gomeh, dan Pe Chun.”

HADRIANI P

Sumber: http://www.tempointeraktif.com

About these ads
This entry was posted in Uncategorized and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s